“Asuhan
pada Neonatus dengan Kelainan Bawaan Obstruksi Biliaris dan Omfalokel serta
Penatalaksanaannya”
“Asuhan pada Neonatus dengan Kelainan Bawaan
Obstruksi Biliaris dan Omfalokel serta Penatalaksanaannya”
Dosen Pembimbing: asepsaripudin
Oleh Kelompok 5:
Hafidzotunnadia
Universitas percintaan hahaha
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
D3 KEBIDANAN
2016/2017
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kita
panjatkan kepada Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya
kami kelompok 5 dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan pada Neonatus
dengan Kelainan Bawaan Obstruksi Biliaris dan Omfalokel serta
Penatalaksanaannya” ini tepat waktu.
Penyusunan makalah ini
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus,
Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah I. Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari
bahwa tanpa bimbingan, pengarahan dan bantuan berbagai pihak tentunya tidak
dapat diselesaikan sebagai manamestinya. Oleh karena itu tidak lupa pula
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Jakarta , 15/November/2011
(nafoe)
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Kelainan Kongenital Pada Neonatus, Bayi,
dan Balita
2.2. Obstruksi Biliaris
A. Definisi
B. Etiologi
C. PATOFISIOLOGI
D. KLASIFIKASI
E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
F. PENCEGAHAN
G. KOMPLIKASI
H. PENATALAKSANAAN
2.3. OMFALOKEL
A. Pengertian
B. Epidemiologi / Insidens
C. Etiologi
D. Tanda dan Gejala
E. Patofisiologi
F. Pemeriksaan Diagnostik
G. Pencegahan
H. Komplikasi
I. Penatalaksanaan
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah-masalah yang
terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan yang
dilakukan pada saat persalinan sangatlah beragam. Trauma akibat tindakan, cara
persalinan atau gangguan kelainan fisiologik persalinan yang sering kita sebut
sebagai cedera atau trauma lahir. Partus yang lama akan menyebabkan adanya
tekanan tulang pelvis. Kebanyakan cedera lahir ini akan menghilang sendiri
dengan perawatan yang baik dan adekuat.
Keberhasilan
penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung dari pengetahuan dasar
dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi, tindakan anestesi dan
pembedahan serta perawatan pasca operasi. Penatalaksanaan perioperatif yang
baik akan meningkatkan keberhasilan penanganan kelainan bayi dan anak.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara mengetahui penyakit
pada neonatus dan bayi khususnya Obstruksi Biliaris dan Omfalokel,?
2. Apa saja penyebab Obstruksi Biliaris
dan Omfalokel?
3. Bagaimana Cara mengetahui
diagnosisnya Obstruksi Biliaris dan Omfalokel?
4. Bagaimana penatalaksanaan Obstruksi
Biliaris dan Omfalokel?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui penyakit pada neonatus
dan bayi khususnya Obstruksi Biliaris, Omfalokel,
2. Untuk mengetahui penyebab Obstruksi
Biliaris, Omfalokel.
3. Untuk mengetahui diagnosisnya Obstruksi
Biliaris, Omfalokel.
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan
Obstruksi Biliaris, Omfalokel.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kelainan Kongenital Pada Neonatus, Bayi,
dan Balita
Kelainan kongenital
merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan
hasil konsepsi sel telur. Kelainan bawaan dapat dikenali sebelum kelahiran,
pada saat kelahiran atau beberapa tahun kemudian setelah kelahiran. Kelainan kongenital
dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian
segera setelah lahir. Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya
sering diakibatkan oleh kelainan kongenital yang cukup berat, hal ini
seakan-akan merupakan suatu seleksi alam terhadap kelangsungan hidup bayi yang
dilahirkan.
Bayi yang dilahirkan dengan
kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat lahir rendah
bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilannya. Bayi berat lahir
rendah dengan kelainan kongenital berat, kira-kira 20% meninggal dalam minggu
pertama kehidupannya. Disamping pemeriksaan fisik, radiologi dan laboratorium
untuk menegakkan diagnosa kelainan kongenital setelah bayi lahir dikenal pula adanya diagnosis
pre/- ante natal kelainan kongenital dengan beberapa cara pemeriksaan tertentu
misalnya pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air ketuban dan darah janin.
2.2. Obstruksi Biliaris
A. Definisi
Obstruksi biliaris, yaitu
timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu. Kelainan
bawaan ini dimana terjadi penyumbatan pada saluran empedu sehingga cairan
empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus untuk dikeluarkan dalam feses
(sebagai sterkobilin). Pada bayi lahir tidak terjadi obstruksi biliaris, melainkan
ikterus, karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah.
Ikterus adalah keadaan
teknis dimana ditemukannya warna kuning pada kulit dan mukosa yang disebabkan
oleh pigmen empedu.
Pada bayi baru lahir sering
disebabkan inkompabilitas faktor Rh atau golongan darah ABO antara ibu dan bayi
atau karena defisiensi GGPO pada bayi.
B.
Metabolisme Bilirubin
Metabolisme bilirubin
mempunyai tingkatan sebagai berikut :
a. Produksi
Sebagian besar bilirubin
sebagai akibat degradasi hemoglobin pada sistem retikulo endotelial. Tingkat
penghancuran hemoglobin ini pada neonatus lebih tinggi daripada bayi yang lebih
tua.
b. Transportasi
Bilirubin di transfer
melalui sel ke dalam hepatosit, sedangkan albumin tidak.
c. Konjugasi
Dalam sel hepar bilirubin
kemudian di konjugasi menjadi bilirubin diglukosonide. Walaupun ada sebagan
kecil dalam bentuk monoglukoronide. Sintesis dan ekskresi di glokoronode
terjadi di membran kanilikulus.
d. Ekskresi
Sesudah konjugasi bilirubin
ini menjadi bilirubin direk yang larut dalam air dan dan di ekskresi dengan
cepat ke sistem empedu. Kemudian ke usus, dalam usus bilirubin direk ini tidak
di absorpsi, sebagian kecil bilirubin dehidrolisis menjadi bilirubin indirek
dan di reabsorpsi
e. Metabolisme bilirubin
pada janin dan neonatus
Produksi bilirubin pada
petus dan neonatus diduga sama besarnya tetapi kesanggupan hepar mengambil
bilirubin dari sirkulasi sangat terbatas.
C. Etiologi
Obstruksi biliaris ini
disebabkan oleh :
1) Batu empedu
Kolestrol cair biasa berada
di dalam empedu dan saluran empedu dalam kondisi normal, namun kolestrol cair
tersebut dapat menjadi jenuh bila terlalu banyak kolestrol dan terlalu sedikit
asam empedu. Hal itu memungkinkan kolestrol mengkristal dan menggumpal menjadi
batu empedu.
2) Karsinoma duktus biliaris
Karsinoma Duktus Biliaris
adalah tumor jinak maupun ganas yang tumbuh di saluran empedu menuju ke hati
sehingga menyebabkan penyumbatan pada saluran empedu. Tumor yang menyebar ke
sistem empedu (Zieve David, 2009)
3) Karsinoma kaput pankreas
Karsinoma Kaput Pankreas
adalah tumor jinak maupun ganas yang tumbuh pada pankreas sehingga menyebabkan
sumbatan pada saluran pankreas.
4) Radang duktus biliaris komunis yang
menyebabkan strikura
5) Ligasi yang tidak disengaja pada duktus
komunis (Sarjadi,2005)
6) Kista dari saluran empedu
7) Limfe node diperbesar dalam porta hepatis
8) Tumor yang menyebar ke sistem empedu
(Zieve David,2009)
Penderita tampak ikterik
akan sangat berat apabila obstruksi tidak dapat diatasi, bilirubin serum yang
terkonjungasi meningkat,feses pucat , urine berwarna gelap (pekat), biasanya
terdapat juga peningkatan kadar alkali fosfate serum terutama transaminase
Apabila terjadi obstruksi
biliaris persisten empedu yang terkandung dapat mengalami infeksi menimbulkan
kolongitis dan abses hepar kekurangan empedu dalam usus halus mempengaruhi
obsorpsi lemak dan zat yang terlarut dalam lemak (misalnya beberapa jenis vitamin).
D. Patofisiologi
Sumbatan saluran empedu
dapat terjadi karena kelainan pada dinding empedu misalnya ada tumor atau
penyempitan karena trauma. Batu empedu dan cacing askariasis sering dijumpai
sebagai penyebab sumbatan didalam lumen saluran. Pankreasitis, tumor caput
pankreas, tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas di daerah ligamentum
hepato duodenale dapat menekan saluran empedu dari luar menimbulkan gangguan
aliran empedu. (Reskoprojo,1995)
Kurangnya bilirubin dalam
saluran usus bertanggung jawab atas tinja pucat biasanya dikaitkan dengan
obstruksi empedu. Penyebab gatal (pruritus) yang berhubungan dengan obtruksi
empedu yang tidak jelas. Sebagian percaya mungkin berhubungan dengan akumulasi
asam empedu di kulit. Selain itu, mungkin berkaitan dengan pelepasan opioid
endogen. (Judarwanto,2009)
Penyebab obstruksi biliaris
adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir ke
dalam usus untuk dikeluarkan (sebagai strekobilin) di dalam feses.
(Ngastiyah,2005).
E. Gejala
a) Gambaran klinis gejala mulai terlihat
pada akhir minggu pertama yakni bayi ikterus
b) Kemudian feses bayi berwarna putih agak
keabu-abuan dan liat seperti dempul
c) Urine menjadi lebih tua karena mengandung
urobilinogen
d) Perut sakit di sisi kanan atas
e) Demam
f) Mual dan muntah (Zieve David,2009)
g) Nafsu makan berkurang
h) Sulit buang air besar
F. Klasifikasi
Berdasarkan penyakit yang
ditimbulkan, meliputi :
Penyakit duktus biliaris
intrahepatik :
a. Atresia biliaris
Merupakan suatu kondisi
kelainan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara
normal.
b. Sirosis biliaris primer
Secara histologis kerusakan
duktus tampak dikelilingi infiltrasi limfosit yang padat dan sering timbul
granuloma.
c. Kolangitis sklerosing
Obat-obatan long-acting
lebih menyebabkan kerusakan hepar dibandingkan dengan obat-obatan short-acting.
(Sarjadi,2000)
d. Obstruksi biliaris akut
Obtruksi biliaris akut
duktus biliaris umumnya disebabkan oleh batu empedu. Secara klinis akan
menimbulkan nyeri kolik dan ikterus. Apabila kemudian sering terjadi infeksi
pada traktus biliaris, duktus akan meradang (kolangitis) dan timbul demam.
Kolangitis dapat berlanjut menjadi abses hepar.
Obstruksi biliaris yang
berulang akan menimbulkan fibrosis traktus portal dan regenerasi noduler sel
hepar. Keadaan ini disebut sirosis biliaris sekunder. (Sarjadi,2000)
E. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis ditegakkan
berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, adanya tanda ikterus atau
kuning pada kulit, pada mata dan di bawah lidah. Pada pemeriksaan perut, hati
teraba membesar kadang juga disertai limfa yang membesar.
A. Pemeriksaan darah (terdapat peningkatan
bilirubin)
Pemeriksaan darah dilakukan
dengan pemeriksaan fungsi hati khususnya terdapat peningkatan kadar bilirubin
direk. Disamping itu dilakukan pemeriksaan albumin, SGOT,SGPT, alkali
fosfatase, GGT dan faktor pembekuan darah.
B. Rontgen perut (tampak hati membesar)
C. Kolangiogram atau kolangiografi
intraoperatif
Yaitu dengan memasukkan
cairan tertentu ke jaringan empedu untuk mengetahui kondisi saluran empedu.
Pemeriksaan kolangiogram intraoperatif dilakukan dengan visualisasi langsung
untuk mengetahui patensi saluran bilier sebelum dilakukan operasi Kasai.
D. Breath Test
Dilakukan untuk mengukur
kemampuan hati dalam memetabolisir sejumlah obat. Obat-obat tersebut ditandai
dengan perunut radioaktif, diberikan per-oral (ditelan) maupun intravena
(melalui pembuluh darah).
Banyaknya radioaktivitas
dalam pernafasan penderita menunjukkan banyaknya obat yang dimetabolisir oleh
hati.
E. USG
Menggunakan gelombang suara
untuk menggambarkan hati, kandung empedu dan saluran empedu. Pemeriksaan ini
bagus untuk mengetahui kelainan struktural, seperti tumor. USG merupakan
pemeriksaan paling murah, paling aman dan paling peka untuk memberikan gambaran
dari kandung empedu dan saluran empedu. Dengan USG, dokter dengan mudah bisa
mengetahui adanya batu empedu di dalam kandung empedu. USG dengan mudah
membedakan sakit kuning (jaundice) yang disebabkan oleh penyumbatan saluran
empedu dari sakit kuning yang disebabkan oleh kelainan fungsi sel hati. USG
Doppler bisa digunakan untuk menunjukkan aliran darah dalam pembuluh darah di
hati. USG juga bisa digunakan sebagai penuntun pada saat memasukkan jarum untuk
mendapatkan contoh jaringan biopsi.
F. Imaging Radionuklida (radioisotop)
Menggunakan bahan yang
mengandung perunut radioaktif, yang disuntikkan ke dalam tubuh dan diikat oleh
organ tertentu. Radioaktivitas dilihat dengan kamera sinar gamma yang
dipasangkan pada sebuah komputer.
G. Skrening hati
Penggambaran radionuklida
yang menggunakan subtansi radioaktif yang diikat oleh sel-sel hati.
H. Koleskintigrafi
Menggunakan zat radioaktif
yang akan dibuang oleh hati ke dalam saluran empedu. Pemeriksaan ini digunakan
untuk mengetahui peradangan akut dari kandung empedu (kolesistitis).
I. CT Scan
Bisa memberikan gambaran
hati yang sempurna dan terutama digunakan untuk mencari tumor. Pemeriksaan ini
bisa menemukan kelainan yang difus (tersebar), seperti perlemakan hati (fatty
liver) dan jaringan hati yang menebal secara abnormal (hemokromatosis). Tetapi
karena menggunakan sinar X dan biayanya mahal, pemeriksaan ini tidak banyak digunakan.
J. Kolangiopankreatografi Endoskopik
Retrograd
Merupakan suatu pemeriksaan
dimana suatu endoskopi dimasukkan ke dalam mulut, melewati lambung dan usus dua
belas jari, menuju ke saluran empedu. Suatu zat radiopak kemudian disuntikkan
ke dalam saluran empedu dan diambil foto rontgen dari saluran empedu.
Pemeriksaan ini menyebabkan peradangan pada pankreas (pankreatitis) pada 3-5%
penderita.
K. Foto rontgen sederhana
Sering bisa menunjukkan
suatu batu empedu yang berkapur.
L. Pemeriksaan biopsi hati
Untuk melihat struktur
organ hati apakah terdapat sirosis hati atau kompilkasi lainnya. Laparotomi
biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan.
M. Laparotomi
Laparotomi (biasanya
dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan). (Indonesia, USA & internasional
berkumpul, 2000)
N. Kolangiografi operatif
Menggunakan zat radiopak
yang bisa dilihat pada rontgen. Selama suatu pembedahan, zat tersebut
disuntikkan secara langsung kedalam saluran empedu. Foto rontgen akan
menunjukkan gambaran yang jelas dari saluran empedu.
O. Kolangiografi Transhepatik Perkutaneus
Menggunakan jarum panjang
yang dimasukkan melalui kulit ke dalam hati, kemudian disuntikkan zat radiopak
ke dalam salah satu dari saluran empedu. Bisa digunakan USG untuk menuntun
masuknya jarum. Rontgen secara jelas menunjukkan saluran empedu, terutama
penyumbatan di dalam hati.
P. MRI
Memberikan gambaran yang
sempurna, mirip dengan CT scan. Pemeriksaan ini lebih mahal dari CT scan,
membutuhkan waktu lebih lama dan penderita harus berbaring dalam ruangan yang
sempit, menyebabkan beberapa penderita mengalami klaustrofobia (takut akan
tempat sempit).
G. PENCEGAHAN
Mengetahui faktor resiko
yang dimiliki, sehingga mendapatkan prompt diagnosis dan pengobatan jika
saluran empedu tersumbat. Penyumbatan itu sendiri tidak dapat dicegah.
(Attasaranya S, Fogel EL, 2008)
Dalam hal ini bidan dapat
memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi setiap
faktor resiko terjadinya obstruksi biliaris (penyumbatan saluran empedu) dengan
keadaan fisik yang memnunjukkan anak tampak ikterik, feses pucat dan urine
berwarna gelap (pekat). (Sarjadi.2000)
H. Penatalaksanaan
Pada dasarnya
penatalaksanaan pasien dengan obstruksi biliaris bertujuan untuk menghilangkan
penyebab sumbatan atau mengalihkan aliran empedu. Tindakan tersebut dapat
berupa tindakan pembedahan misalnya pengangkatan batu atau reseksi tumor. Dapat
pula upaya untuk menghilangkan sumbatan dengan tindakan endoskopi baik melalui
papila vater atau dengan laparoskopi.
Bila tindakan pembedahan
tidak mungkin dilakukan untuk menghilangkan penyebab sumbatan, dilakukan
tindakan drenase yang bertujuan agar empedu yang terhambat dapat dialirkan.
Drenase dapat dilakukan keluar tubuh misalnya dengan pemasangan pipa naso
bilier, pipa T pada duktus koledokus, atau kolesistostomi. Drenase interna dapat
dilakukan dengan membuat pintasan bilio digestif. Drenase interna ini dapat
berupa kelesisto-jejunostomi, koledoko-duodenostomi, koledoko-jejunustomi atau
hepatiko-jejunustomi.
1. Medis
Penatalaksanaan medisnya
dengan tindakan operasi. (Ngastiyah,2005)
2. Asuhan kebidanan
a) Pertahanan kesehatan bayi dengan
pemberian makanan cukup gizi sesuai dengan kebutuhan, pencegahan hipotermia,
pencegahan infeksi dan lain-lain.
b) Lakukan konseling pada orang tua agar
mereka menyadari bahwa kuning yang dialami bayinya bukan kuning biasa tetapi
disebabakan karena adanya penyumbatan pada saluran empedu.
c) Lakukan inform consent dan inform choice
untuk dilakukan rujukan.
d) Penatalaksanaan medisnya ialah dengan
tindakan operasi selektif.
2.3. Omfalokel
A. Pengertian
Omphalokel pada dasarnya
sama dengan gastroschisis. Omphalocele adalah defek (kecacatan) pada dinding
anterior abdomen pada dasar dari umbilical cord dengan herniasi dari isi
abdomen. Organ-organ yang berherniasi dibungkus oleh peritoneum parietal.
Setelah 10 minggu gestasi, amnion dan Wharton Jelly juga membungkus massa
hernia (Lelin-Okezone, 2007).
Omphalocele adalah suatu keadaan dimana dinding perut mengandung
struktur muskulo aponeuresis yang kompleks. Aponeuresis adalah lembaran
jaringan mirip tendon yang lebar serta mengkilap untuk membungkus dan
melekatkan otot yang satu dengan yang lainnya dan juga dengan bagian yang
digerakkan oleh otot tersebut.
· Dibagian belakang, struktur ini
melekat pada tulang belakang.
· Disebelah atas, melekat pada iga.
· Di bagian bawah melekat pada tulang
panggul.
Dinding perut ini terdiri
dari berbagai lapis, yaitu dari luar ke dalam lapisan kulit yang terdiri dari
kutis dan sub cutis, lemak sub cutan dan fasia superfisialis (Fasia scarpa).
Kemudian ketiga otot dinding perut, m. oblikus abdominis externus, m. oblikus
abdominis internus, m. tranfersus abdominis dan akhirnya lapis preperitoneum.
Peritoneum, yaitu fasia tranversalis, lemak peritoneal dan peritoneum. Otot di
bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rectus abdominis dengan fasianya
yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba (Harnawatiaj, 2008).
Omphalocele adalah kondisi
bayi waktu dilahirkan perut bagian depannya berlubang dan usus hanya dilapisi
selaput yang sangat tipis (dr. Irawan Eko, Spesialis Bedah RSU Kardinah, 2008).
Omphalocele berarti muara tali pusat dan dinding perut tidak menyatu sehingga
usus keluar (dr. Christoffel SpOG (K) RSUPM, 2008). Omphalocele terjadi saat
bayi masih dalam kandungan. Karena gangguan fisiologis pada sang ibu, dinding
dan otot-otot perut janin tak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya, organ
pencernaan seperti usus, hati, tali pusar, serta lainnya tumbuh di luar tubuh.
Jenis gastroschisis terjadi seperti omphalocele. Bedanya, posisi tali pusar
tetap pada tempatnya.(,2008 ,dr Redmal Sitorus).
B. Epidemiologi / Insidens
Di Amerika Serikat,
omphalokel yang kecil terjadi dengan rasio 1 kasus dalam 5.000 kelahiran.
Omphalokel yang besar terjadi dengan rasio 1 kasus dalam 10.000 kelahiran.
Perbandingan laki-laki dengan perempuan adalah 1:1. Menurut catatan Dinas
Kesehatan Bangka Belitung, dalam kurun waktu tiga bulan belakangan ini,
setidaknya ada enam kasus kelahiran dengan usus terburai. Padahal, selama ini catatan
medis memperlihatkan, angka kejadian kelainan dinding perut adalah sekali dalam
tiap 200.000 kelahiran. Perempuan umur 40 tahun atau lebih cenderung melahirkan
bayi dengan omphalokel. Angka kematian kelainan ini tinggi bila omfalokel besar
karena kantong dapat pecah dan terjadi infeksi.
C. Etiologi
Menurut Rosa M. Scharin
(2004), etiologi pasti dari omphalocele belum diketahui. Beberapa teori telah
dipostulatkan, seperti :
1) Kegagalan kembalinya usus ke dalam
abdomen dalam 10-12 minggu yaitu kegagalan lipatan mesodermal bagian lateral
untuk berpindah ke bagian tengah dan menetapnya the body stalk selama gestasi
12 minggu.
2) Faktor resiko tinggi yang berhubungan dengan
omphalokel adalah resiko tinggi kehamilan seperti :
· Infeksi dan penyakit pada ibu
· Penggunaan obat-obatan berbahaya,
merokok,
· Kelainan genetic
· Defesiensi asam folat
· Hipoksia
· Salisil dapat menyebabkan defek pada
dinding abdomen.
· Asupan gizi yang tak seimbang
· Unsur polutan logam berat dan
radioaktif yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil.
D. Tanda dan Gejala
Terdapatnya usus dan organ
perut lainnya yang menonjol keluar dinding perut di sekitar umbilicus. Lubang
yang terbentuk bervariasi, tergantung kepada besarnya lubang di pusar. Jika
lubangnya kecil, mungkin hanya usus yang menonjol tetapi jika lubangnya besar,
hati juga bisa menonjol melalui lubang tersebut.
E. Patofisiologi
Menurut Suriadi &
Yuliani R, 2001, patofisiologi dari omphalokel adalah:
1) Selama perkembangan embrio, ada suatu
kelemahan yang terjadi dalam dinding abdomen semasa embrio yang mana
menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah satu samping umbilicus (yang
biasanya pada samping kanan). Ini menyebabkan organ visera abdomen keluar dari
kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh kantong.
2) Terjadi malrotasi dan menurunnya
kapasitas abdomen yang dianggap sebagai anomaly.
3) Gastroskisis terbentuk akibat kegagalan
fusi somite dalam pembentukan dinding abdomen sehingga dinding abdomen sebagian
tetap terbuka.
4) Letak defek umumnya disebelah kanan
umbilicus yang terbentuk normal.
5) Usus sebagian besar berkembang di luar
rongga abdomen janin. Akibatnya, usus menjadi tebal dan kaku karena pengendapan
dan iritasi cairan amnion dalam kehidupan intrauterine. Usus juga tampak
pendek. Rongga abdomen janin sempit.
6) Usus-usus, visera dan seluruh permukaan
rongga abdomen berhubungan dengan dunia luar menyebabkan penguapan dan pancaran
panas dari tubuh cepat berlangsung, sehingga terjadi dehidrasi dan hipotermi,
kontaminasi usus dengan kuman juga dapat terjadi dan menyebabkan sepsis,
aerologi menyebabkan usus-usus distensi sehingga mempersulit koreksi pemasukan
ke rongga abdomen pada waktu pembedahan.
7) Embriogenesis.Pada janin usia 5 – 6
minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selom. Pada usia 10 minggu
terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra peritoneum akan
masuk ke rongga perut. Bila proses ini terhambat maka akan terjadi kantong di
pangkal umbilikus yang berisi usus, lambung kadang hati. Dindingnya tipis
terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening
sehingga isi kantong tengah tampak dari luar, keadaan ini disebut omfalokel.
Bila usus keluar dari titik terlemah di kanan umbilikus, usus akan berada di
luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion, keadaan ini disebut
gastroschisis.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Fisik
Pada omfalokel tampak
kantong yang berisi usus dengan atau tanpa hati di garis tengah pada bayi yang
baru lahir.Pada gastro schisis usus berada di luar rongga perut tanpa adanya
kantong.
2) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Maternal Serum
Alfa Fetoprotein (MSAFP). Diagnosis prenatal defek pada dinding abdomen dapat
dideteksi dengan peningkatan MSAFP. MSAFP dapat juga meninggi pada spinabifida
yang disertai dengan peningkatan asetilkolinesterase dan pseudokolinesterase.
3) Pemeriksaan radiology
Fetal sonography dapat
menggambarkan kelainan genetik dengan memperlihatkan marker structural dari
kelainan kariotipik. Echocardiography fetus membantu mengidentifikasi kelainan
jantung. Untuk mendukung diagnosis kelainan genetik diperjelas dengan amniosentesis.
Pada omphalocele tampak kantong yang terisi usus dengan atau tanpa hepar di
garis tengah pada bayi yang baru lahir.
G. Pencegahan
Terpenuhinya nutrisi selama
kehamilan seperti asam folat, vitamin B komplek dan protein.
H. Komplikasi
Komplikasi dini merupakan
infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang telanjang. Kelainan
kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang
memperburuk prognosis
I. Penatalaksanaan
a) Medis
Tindakan yang dapat dilakukan
ialah dengan melindungi kantong omfalokel dengan cairan anti septik misalnya
betadin dan menutupnya dengan kain dakron agar tidak tercemar. Setelah itu
segera melaksanakan persiapan untuk merujuk ke Rumah Sakit untuk segera
dilakukan pembedahan menutup omfalokel agar tidak terjadi cedera pada usus dan
infeksi perut.
b) Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan yang dapat
dilakukan jika menjumpai pasien anak/ bayi yang mengalami omfalokel, adalah
merujuk. Kerena jika mengalami keterlambatan dalam merujuk maka akan mengalami
cedera pada usus dan infeksi perut.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Obstruksi biliaris adalah
tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus
untuk dikeluarkan. Omphalocele adalah kondisi bayi waktu dilahirkan perut
bagian depannya berlubang dan usus hanya dilapisi selaput yang sangat tipis.
Omfalokel adalah penonjolan
dari usus atau isi perut lainnya melalui akar pusar yang hanya dilapisi oleh
peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh kulit. Omfalokel terjadi
pada 1 dari 5.000 kelahiran. Usus terlihat dari luar melalui selaput peritoneum
yang tipis dan transparan (tembus pandang).
3.2 Saran
Pemeriksaan pada masa
kehamilan itu sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi pada janin yang masih dalam rahim dan juga ketika
saat lahir nanti,teutama penyakit yang mungkin di derita bayi pada saat lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Asep saripudin
FB: ken-zy
Email : asepsaripudin1093@gmail.com
No Wa : 083878615051

Tidak ada komentar:
Posting Komentar