Bab i
Pendahuluan
A. LATAR BELAKANG
Masalah-masalah yang
terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan yang
dilakukan pada saat persalinan sangatlah beragam. Trauma akibat tindakan, cara
persalinan atau gangguan kelainan fisiologik persalinan yang sering kita sebut
sebagai cedera atau trauma lahir. Partus yang lama akan menyebabkan adanya
tekanan tulang pelvis. Kebanyakan cedera lahir ini akan menghilang sendiri
dengan perawatan yang baik dan adekuat.
Keberhasilan penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung dari pengetahuan dasar dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi, tindakan anestesi dan pembedahan serta perawatan pasca operasi. Penatalaksanaan perioperatif yang baik akan meningkatkan keberhasilan penanganan kelainan bayi dan anak.
Keberhasilan penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung dari pengetahuan dasar dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi, tindakan anestesi dan pembedahan serta perawatan pasca operasi. Penatalaksanaan perioperatif yang baik akan meningkatkan keberhasilan penanganan kelainan bayi dan anak.
Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup pembahasan yang akan dibahas yaitu mengenai hirschprung,obstruksi billiaris,omfalokel dan hernia diafragmatika.
Ruang lingkup pembahasan yang akan dibahas yaitu mengenai hirschprung,obstruksi billiaris,omfalokel dan hernia diafragmatika.
B. Tujuan Makalah
1. Untuk
mengetahui penyakit pada neonatus dan bayi khususnya Obstruksi Biliaris, Omfalokel,
2. Untuk
mengetahui penyebab Obstruksi Biliaris, Omfalokel.
3. Untuk
mengetahui diagnosisnya Obstruksi Biliaris, Omfalokel.
4. Untuk
mengetahui penatalaksanaan Obstruksi Biliaris, Omfalokel.
5. Mahasiswa
mampu mempelajari dan melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan
trauma lahir.
6. Untuk
mengingatkan kita kembali, untuk semaksimal mungkin melakukan penatalaksanaan
perioperatif pada obstuksi usus untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas pada
bayi dan anak
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
BAYI BARU LAHIR NORMAL
A. Pengertian
A. Pengertian
v Menurut Saifuddin, (2002)
Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.
v Menurut Donna L. Wong,
(2003) Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu. Lahirrnya
biasanya dengan usia gestasi 38 – 42 minggu.
v Menurut Dep. Kes. RI,
(2005) Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
v Menurut M. Sholeh Kosim,
(2007) Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup
bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat
bawaan) yang berat.
Kelainan Kongenital Pada Neonatus, Bayi, dan Balita
Kelainan
kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak
kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan bawaan dapat
dikenali sebelum kelahiran, pada saat kelahiran atau beberapa tahun kemudian
setelah kelahiran. Kelainan
kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau
kematian segera setelah lahir. Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama
kehidupannya sering diakibatkan oleh kelainan kongenital yang cukup berat, hal
ini seakan-akan merupakan suatu seleksi alam terhadap kelangsungan hidup bayi
yang dilahirkan.
Bayi
yang dilahirkan dengan kelainan kongenital besar, umumnya akan dilahirkan
sebagai bayi berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk
masa kehamilannya. Bayi berat lahir rendah dengan kelainan kongenital berat,
kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama
kehidupannya. Disamping pemeriksaan fisik, radiologi dan laboratorium untuk
menegakkan diagnosa kelainan kongenital setelah bayi lahir dikenal pula
adanya diagnosis pre/- ante natal kelainan kongenital dengan beberapa cara
pemeriksaan tertentu misalnya pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air
ketuban dan darah janin.
1. Hirschprung
Penyakit Hirschsprung
(Megakolon Kongenital) adalah suatu kelainan kongenital yang ditandai dengan
penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak
adekuat karena sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan
kontraksi ototnya. Sehingga menyebabkan terakumulasinya feses dan dilatasi
kolon yang masif.
Ø Penyebab
Dalam keadaan normal,
bahan makanan yang dicerna bisa berjalan di sepanjang usus karena adanya
kontraksi ritmis dari otot-otot yang melapisi usus (kontraksi ritmis ini
disebut gerakan peristaltik). Kontraksi otot-otot tersebut dirangsang oleh
sekumpulan saraf yang disebut ganglion, yang terletak dibawah lapisan otot.
Pada penyakit Hirschsprung, ganglion ini tidak ada, biasanya hanya sepanjang
beberapa sentimeter. Segmen usus yang tidak memiliki gerakan peristaltik tidak
dapat mendorong bahan-bahan yang dicerna dan terjadi penyumbatan. Penyakit
Hirschsprung 5 kali lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki. Penyakit ini
kadang disertai dengan kelainan bawaan lainnya, misalnya sindroma Down.
Ø Tanda dan gejala
· segera
setelah lahir, bayi tidak dapat mengeluarkan mekonium (tinja pertama pada bayi
baru lahir)
· tidak
dapat buang air besar dalam waktu 24-48 jam setelah lahir
· perut
menggembung
· muntah
· diare
encer (pada bayi baru lahir)
· berat
badan tidak bertambah, mungkin terjadi retardasi pertumbuhan
· malabsorbsi.
Ø Diagnosa
Diagnosis ditegakkan
berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan colok dubur
(memasukkan jari tangan ke dalam anus) menunjukkan adanya pengenduran pada otot
rektum.
Ø Pengobatan
Pengobatan dengan
diberikan obat-obat yang bersifat simptomatis atau definitif. Pada keadaan
gawat darurat, mungkin juga diperlukan koreksi cairan dan keseimbangan
elektrolit.Untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan usus, segera
dilakukan kolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan lubang pada dinding
perut yang disambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan bagian usus yang
terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya dilakukan pada saat anak
berusia 6 bulan atau lebih. Jika terjadi perforasi (perlubangan usus) atau
enterokolitis, diberikan antibiotik.
2. OBSTRUKSI BILIARIS
A. PENGERTIAN
Obstruksi
biliaris, yaitu timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran
empedu. kelainan bawaan ini dimana terjadi penyumbatan pada saluran empedu
sehingga cairan empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus untuk dikeluarkan
dalam feses (sebagai sterkobilin )Pada bayi lahir tidak terjadi obstruksi
biliaris, melainkan ikterus, karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah.
Ikterus adalah keadaan
teknis dimana ditemukannya warna kuning pada kulit dan mukosa yang disebabkan
oleh pigmen empedu.
Pada bayi baru lahir
sering disebabkan inkompabilitas faktor Rh atau golongan darah ABO antara ibu
dan bayi atau karena defisiensi GGPO pada bayi.
B. ETIOLOGI
Obstruksi
biliaris ini disebabkan oleh :
1) Batu
empedu
2) Karsinoma
duktus biliaris
3) Karsinoma
kaput pankreas
4) Radang
duktus biliaris komunis
5) Ligasi
yang tidak disengaja pada duktus komunis (Sarjadi,2005)
6) Kista
dari saluran empedu
7) Limfe
node diperbesar dalam porta hepatis
8) Tumor
yang menyebar ke sistem empedu (Zieve David,2009)
C. PATOFISIOLOGI
Sumbatan saluran empedu
dapat terjadi karena kelainan pada dinding empedu misalnya ada tomor atau
penyempitan karena trauma. Batu empedu dan cacing askariasis sering dijumpai
sebagai penyebab sumbatan didalam lumen saluran. Pankreasitis, tumor caput
pankreas, tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas di daerah ligamentum
hepato duodenale dapat menekan saluran empedu dari luar menimbulkan gangguan
aliran empedu. (Reskoprojo,1995)
Kurangnya bilirubin dalam
saluran usus bertanggung jawab atas tinja pucat biasanya dikaitkan dengan
obstruksi empedu. Penyebab gatal (pruritus) yang berhubungan dengan obtruksi
empedu yang tidak jelas. Sebagian percaya mungkin berhubungan dengan akumulasi
asam empedu di kulit. Selain itu, mungkin berkaitan dengan pelepasan opioid
endogen. (Judarwanto,2009)
Penyebab obstruksi
biliaris adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat
mengalir ke dalam usus untuk dikeluarkan (sebagai strekobilin) di dalam feses.
(Ngastiyah,2005).
D. KLASIFIKASI
Berdasarkan
penyakit yang ditimbulkan, meliputi :
Ø Penyakit duktus biliaris
intrahepatik :
o Atresia
biliaris
Ø Merupakan suatu kondisi
kelainan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara
normal.
o Sirosis
biliaris primer
Ø Secara histologis
kerusakan duktus tampak dikelilingi infiltrasi limfosit yang padat dan sering
timbul granuloma.
o Kolangitis
sklerosing
Ø Obat-obatan long-acting
lebih menyebabkan kerusakan hepar dibandingkan dengan obat-obatan short-acting.
(Sarjadi,2000)
o Obstruksi
biliaris akut
Ø Obtruksi biliaris akut
duktus biliaris umumnya disebabkan oleh batu empedu. Secara klinis akan
menimbulkan nyeri kolik dan ikterus. Apabila kemudian sering terjadi infeksi
pada traktus biliaris, duktus akan meradang (kolangitis) dan timbul demam.
Kolangitis dapat berlanjut menjadi abses hepar.
Ø Obstruksi biliaris yang
berulang akan menimbulkan fibrosis traktus portal dan regenerasi noduler sel
hepar. Keadaan ini disebut sirosis biliaris sekunder. (Sarjadi,2000)
E. PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
1) Pemeriksaan
darah (terdapat peningkatan bilirubin)
Pemeriksaan darah
dilakukan dengan pemeriksaan fungsi hati khususnya terdapat peningkatan kadar
bilirubin direk. Disamping itu dilakukan pemeriksaan albumin, SGOT,SGPT, alkali
fosfatase, GGT dan faktor pembekuan darah.
2) Rontgen
perut (tampak hati membesar)
3) Kolangiogram
atau kolangiografi intraoperatif
Yaitu dengan memasukkan
cairan tertentu ke jaringan empedu untuk mengetahui kondisi saluran empedu.
4) Breath
Test
Dilakukan untuk mengukur
kemampuan hati dalam memetabolisir sejumlah obat.
5) USG
Menggunakan gelombang
suara untuk menggambarkan hati, kandung empedu dan saluran empedu.
6) Imaging
Radionuklida (radioisotop)
7) Skrening
hati
Penggambaran radionuklida
yang menggunakan subtansi radioaktif yang diikat oleh sel-sel hati.
8) Koleskintigrafi
Mengetahui peradangan
akut dari kandung kemih
9) CT Scan
Pemeriksaan ini bisa
menemukan kelainan yang difus (tersebar) seperti kelemahan hati dan jaringan
hati yang menebal secara abnormal.
10) Kolangiopankreatografi
Endoskopik Retrograd
11) Foto rontgen sederhana
Menunjukkan batu empedu
yang berkapur
12) Pemeriksaan biopsi hati
13) Laparotomi
14) Kolangiografi operatif
15) Kolangiografi
Transhepatik Perkutaneus
16) MRI
F. PENCEGAHAN
Mengetahui faktor resiko
yang dimiliki, sehingga mendapatkan prompt diagnosis dan pengobatan jika
saluran empedu tersumbat. Penyumbatan itu sendiri tidak dapat dicegah.
(Attasaranya S, Fogel EL, 2008)
Dalam hal ini bidan dapat
memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi setiap
faktor resiko terjadinya obstruksi biliaris (penyumbatan saluran empedu) dengan
keadaan fisik yang memnunjukkan anak tampak ikterik, feses pucat dan urine
berwarna gelap (pekat). (Sarjadi.2000)
G. KOMPLIKASI
a. Demam
b. Nafsu
makan berkurang
c. Sulit
buang air besar
H. PENATALAKSANAAN
1.
Medis
Penatalaksanaan
medisnya dengan tindakan operasi. (Ngastiyah,2005)
2.
Asuhan kebidanan
· Mempertahankan
kesehatan bayi (pemberian makan yang cukup gizi sesuai dengan kebutuhan, serta
menghindarkan kontak infeksi).
· Memberikan
penjelasan kepada orang tua bahwa keadaan kuning pada bayi berbeda dengan bayi
lain yang kuning akibat hiperbilirubin biasa yang hanya dapat dengan terapi
sinar atau terapi lain. (Ngastiyah,2005)
3. OMFALOKEL
A. Pengertian
Omphalokel
pada dasarnya sama dengan gastroschisis. Omphalocele adalah defek (kecacatan)
pada dinding anterior abdomen pada dasar dari umbilical cord dengan herniasi
dari isi abdomen. Organ-organ yang berherniasi dibungkus oleh peritoneum parietal.
Setelah 10 minggu gestasi, amnion dan Wharton Jelly juga membungkus massa
hernia (Lelin-Okezone, 2007). Omphalocele adalah suatu keadaan
dimana dinding perut mengandung struktur muskulo aponeuresis yang kompleks.
Aponeuresis adalah lembaran jaringan mirip tendon yang lebar serta mengkilap
untuk membungkus dan melekatkan otot yang satu dengan yang lainnya dan juga
dengan bagian yang digerakkan oleh otot tersebut.
· Dibagian
belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang.
· Disebelah
atas, melekat pada iga.
· Di
bagian bawah melekat pada tulang panggul.
Dinding
perut ini terdiri dari berbagai lapis, yaitu dari luar ke dalam lapisan kulit
yang terdiri dari kutis dan sub cutis, lemak sub cutan dan fasia superfisialis
(Fasia scarpa). Kemudian ketiga otot dinding perut, m. oblikus abdominis
externus, m. oblikus abdominis internus, m. tranfersus abdominis dan akhirnya
lapis preperitoneum. Peritoneum, yaitu fasia tranversalis, lemak peritoneal dan
peritoneum. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rectus
abdominis dengan fasianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba (Harnawatiaj,
2008).
Omphalocele
adalah kondisi bayi waktu dilahirkan perut bagian depannya berlubang dan usus
hanya dilapisi selaput yang sangat tipis (dr. Irawan Eko, Spesialis Bedah RSU
Kardinah, 2008). Omphalocele berarti muara tali pusat dan dinding perut tidak
menyatu sehingga usus keluar (dr. Christoffel SpOG (K) RSUPM, 2008). Omphalocele
terjadi saat bayi masih dalam kandungan. Karena gangguan fisiologis pada sang
ibu, dinding dan otot-otot perut janin tak terbentuk dengan sempurna.
Akibatnya, organ pencernaan seperti usus, hati, tali pusar, serta lainnya
tumbuh di luar tubuh. Jenis gastroschisis terjadi seperti omphalocele. Bedanya,
posisi tali pusar tetap pada tempatnya.(,2008 ,dr Redmal Sitorus).
B. Epidemiologi
/ Insidens
Di
Amerika Serikat, omphalokel yang kecil terjadi dengan rasio 1 kasus dalam 5.000
kelahiran. Omphalokel yang besar terjadi dengan rasio 1 kasus dalam 10.000
kelahiran. Perbandingan laki-laki dengan perempuan adalah 1:1. Menurut catatan
Dinas Kesehatan Bangka Belitung, dalam kurun waktu tiga bulan belakangan ini,
setidaknya ada enam kasus kelahiran dengan usus terburai. Padahal, selama ini
catatan medis memperlihatkan, angka kejadian kelainan dinding perut adalah
sekali dalam tiap 200.000 kelahiran. Perempuan umur 40 tahun atau lebih
cenderung melahirkan bayi dengan omphalokel. Angka kematian kelainan ini tinggi
bila omfalokel besar karena kantong dapat pecah dan terjadi infeksi.
C.
Etiologi
Menurut Rosa M. Scharin
(2004), etiologi pasti dari omphalocele belum diketahui. Beberapa teori telah
dipostulatkan, seperti :
1. Kegagalan
kembalinya usus ke dalam abdomen dalam 10-12 minggu yaitu kegagalan lipatan
mesodermal bagian lateral untuk berpindah ke bagian tengah dan menetapnya the
body stalk selama gestasi 12 minggu.
2. Faktor
resiko tinggi yang berhubungan dengan omphalokel adalah resiko tinggi kehamilan
seperti :
· Infeksi
dan penyakit pada ibu
· Penggunaan
obat-obatan berbahaya, merokok,
· Kelainan
genetic
· Defesiensi
asam folat
· Hipoksia
· Salisil
dapat menyebabkan defek pada dinding abdomen.
· Asupan
gizi yang tak seimbang
· Unsur
polutan logam berat dan radioaktif yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil.
D. Tanda dan Gejala
Terdapatnya usus dan
organ perut lainnya yang menonjol keluar dinding perut di sekitar umbilicus.
Lubang yang terbentuk bervariasi, tergantung kepada besarnya lubang di pusar.
Jika lubangnya kecil, mungkin hanya usus yang menonjol tetapi jika lubangnya
besar, hati juga bisa menonjol melalui lubang tersebut.
E. Patofisiologi
Menurut Suriadi &
Yuliani R, 2001, patofisiologi dari omphalokel adalah:
1. Selama
perkembangan embrio, ada suatu kelemahan yang terjadi dalam dinding abdomen
semasa embrio yang mana menyebabkan herniasi pada isi usus pada salah satu
samping umbilicus (yang biasanya pada samping kanan). Ini menyebabkan organ
visera abdomen keluar dari kapasitas abdomen dan tidak tertutup oleh kantong.
2. Terjadi
malrotasi dan menurunnya kapasitas abdomen yang dianggap sebagai anomaly.
3. Gastroskisis
terbentuk akibat kegagalan fusi somite dalam pembentukan dinding abdomen
sehingga dinding abdomen sebagian tetap terbuka.
4. Letak
defek umumnya disebelah kanan umbilicus yang terbentuk normal.
5. Usus
sebagian besar berkembang di luar rongga abdomen janin. Akibatnya, usus menjadi
tebal dan kaku karena pengendapan dan iritasi cairan amnion dalam kehidupan
intrauterine. Usus juga tampak pendek. Rongga abdomen janin sempit.
6. Usus-usus,
visera dan seluruh permukaan rongga abdomen berhubungan dengan dunia luar
menyebabkan penguapan dan pancaran panas dari tubuh cepat berlangsung, sehingga
terjadi dehidrasi dan hipotermi, kontaminasi usus dengan kuman juga dapat
terjadi dan menyebabkan sepsis, aerologi menyebabkan usus-usus distensi
sehingga mempersulit koreksi pemasukan ke rongga abdomen pada waktu pembedahan.
7. EmbriogenesisPada
janin usia 5 – 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selom.
Pada usia 10 minggu terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra
peritoneum akan masuk ke rongga perut. Bila proses ini terhambat maka akan
terjadi kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus, lambung kadang hati.
Dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang
keduanya bening sehingga isi kantong tengah tampak dari luar, keadaan ini
disebut omfalokel. Bila usus keluar dari titik terlemah di kanan umbilikus,
usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion,
keadaan ini disebut gastroschisis.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan
Fisik
Pada omfalokel tampak
kantong yang berisi usus dengan atau tanpa hati di garis tengah pada bayi yang
baru lahir.Pada gastro schisis usus berada di luar rongga perut tanpa adanya
kantong.
2. Pemeriksaan
Laboratorium
Pemeriksaan Maternal
Serum Alfa Fetoprotein (MSAFP). Diagnosis prenatal defek pada dinding abdomen
dapat dideteksi dengan peningkatan MSAFP. MSAFP dapat juga meninggi pada
spinabifida yang disertai dengan peningkatan asetilkolinesterase dan
pseudokolinesterase.
4. Pemeriksaan
radiology
Fetal sonography dapat
menggambarkan kelainan genetik dengan memperlihatkan marker structural dari
kelainan kariotipik. Echocardiography fetus membantu mengidentifikasi kelainan
jantung. Untuk mendukung diagnosis kelainan genetik diperjelas dengan amniosentesis.
Pada omphalocele tampak kantong yang terisi usus dengan atau tanpa hepar di
garis tengah pada bayi yang baru lahir.
G.
Pencegahan
Terpenuhinya nutrisi
selama kehamilan seperti asam folat, vitamin B komplek dan protein.
H.
Komplikasi
Komplikasi dini merupakan
infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang telanjang. Kelainan
kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang
memperburuk prognosis
I. Penatalaksanaan
a. Medis
Tindakan yang dapat
dilakukan ialah dengan melindungi kantong omfalokel dengan cairan anti septik
misalnya betadin dan menutupnya dengan kain dakron agar tidak tercemar. Setelah
itu segera melaksanakan persiapan untuk merujuk ke Rumah Sakit untuk segera dilakukan
pembedahan menutup omfalokel agar tidak terjadi cedera pada usus dan infeksi
perut.
b. Asuhan
Kebidanan Asuhan kebidanan yang dapat dilakukan jika menjumpai pasien anak/
bayi yang mengalami omfalokel, adalah merujuk. Kerena jika
mengalami keterlambatan dalam merujuk maka akan mengalami cedera pada usus dan
infeksi perut.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Penyakit Hirschsprung
(Megakolon Kongenital) adalah suatu kelainan kongenital yang ditandai dengan
penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat pergerakan usus yang tidak
adekuat karena sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan
kontraksi ototnya. Sehingga menyebabkan terakumulasinya feses dan dilatasi
kolon yang masif.
Obstruksi biliaris adalah
tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir ke dalam usus
untuk dikeluarkan. Omphalocele adalah kondisi bayi waktu dilahirkan perut
bagian depannya berlubang dan usus hanya dilapisi selaput yang sangat tipis.
Omfalokel
adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar pusar yang
hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh kulit.
Omfalokel terjadi pada 1 dari 5.000 kelahiran. Usus terlihat dari luar melalui
selaput peritoneum yang tipis dan transparan (tembus pandang).
Hernia
Diafragmatika merupakan penonjolan organ perut ke dalam rongga dada melalui
suatu lubang pada diafragma.
B.
Saran
Pemeriksaan
pada masa kehamilan itu sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi
pada janin yang masih dalam rahim dan juga ketika saat lahir
nanti,teutama penyakit yang mungkin di derita bayi pada saat lahir.
1.
OBSTRUKSI BILIARIS
a.
Bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi
setiap faktor resiko terjadinya obstruksi biliaris (penyumbatan saluran empedu)
dengan keadaan fisik yang memnunjukkan anak tampak ikterik, feses pucat dan
urine berwarna gelap (pekat).
b.
Bidan segera melakukan rujukan cepat untuk menghindari komplikasi.
2.
OMFALOKEL
a.
Bidan mengarahkan pada orang tua untuk memenuhi nutrisi selama
kehamilan seperti asam folat, vitamin B komplek dan protein.
b.
Untuk pertolongan pertama melindungi kantong omfalokel dengan cairan anti
septik misalnya betadin dan menutupnya dengan kain dakron agar tidak tercemar,
lalu rujuk.
DAFTAR
PUSTAKA
asep saripudin
email :asepsaripudin1093@gmail.com
facebook : ken-zy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar